InstaForex InstaForex

Experts Say: 2017-03-20

Dani Rodrik - Profesor Ekonomi Politik Internasional di Universitas Harvard

Uni Eropa sedang hadapi masalah serius

Dani Rodrik yang merupakan seorang profesor pengajar Ekonomi Politik Internasional di Universitas Harvard, Sekolah Pemerintahan John F. Kennedy mengemukakan pendapatnya bahwa Uni Eropa saat ini sedang menghadapi masalah serius dan ia ragu apakah Eropa sanggup menyelesaikannya.

"Bulan ini Uni Eropa akan merayakan hari jadi mereka yang ke-60 sejak ditandatanganinya perjanjian Traktat Roma yang didirikan oleh Masyarakat Ekonomi Eropa. Ini merupakan waktu yang tepat untuk merayakan 60 taun berdirinya Uni Eropa. Mengingat sudah banyak sekali yang dilalui Uni Eropa bersama-sama; mulai dari perang berabad-abad, pergolakan di negara-negara, hingga pembunuhan masal; namun saat ini Eropa masih damai dan bersatu. Uni Eropa telah berhasil mempersatukan 11 bekas pecahan Uni Soviet . Dan untuk masalah kesenjangan, Negara-negara anggota Uni Soviet berhasil meraih prestasi dengan jarak pendapatan yang tidak terlalu berbeda antar satu sama lainnya dibandingkan dengan negara lain di dunia.

Namun hal tersebut hanyalan prestasi di masa lalu. Saat ini, Union ini sedang terperosok ke jurang krisis yang membuat masa depan mereka jadi tidak jelas. Gejalanya sudah terlihat dimana-mana: Brexit, level mengejutkan pada angka pengangguran tenaga kerja muda di Yunani dan Spanyol, penumpukkan hutang dan kemandekan ekonomi di Italia, meningkatnya pergerakan kaum populis, dan penolakan terhadap euro dan imigran. Semua hal tersebut menandakan bahwa ada yang harus dibenahi dalam institusi Eropa," Dani Rodrik menjelaskan.

"Saat ini sudah ada agenda awal yang dicanangkan oleh Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker guna menentukan masa depan Eropa, Juncker memaparkan lima langkah yang dapat dilakukan: tetap mengikuti agenda yang sudah ditetapkan, fokus terhadap pasar tunggal, membiarkan beberapa negara lain lebih maju ketimbang negara lainnya menuju integrasi, mempersempit agenda, dan mendorong dengan penuh ambisi untuk integrasi yang lebih lengkap dan merata.

Sulit bagi kita untuk tidak merasa simpati terhadap Juncker. Jika kita melihat para politikus Eropa sibuk dalam peperangan dengan urusan negaranya sendiri, dan institusi Uni Eropa di Brussels yang menjadi target rasa frustasi, Juncker masih mau melakukan tindakan yang berisiko. Walaupun begitu, hasil kerjanya masih cukup mengecewakan karena masih menyimpang dari masalah inti yang harus diselesaikan oleh Uni Eropa.

Apabila demokrasi Eropa ingin mengembalikan kejayaannya, maka integrasi ekonomi dan politik tidak dapat sinkron. Antara integrasi politik yang mengejar integrasi ekonomi atau intgrasi ekonomi yang harus diperlambat. Selama keputusan ini tidak dipedulikan, Uni Eropa masih akan tetap tidak berfungsi," sang prosefor melanjutkan.

"Apabila dihadapkan dengan pilihan yang tegas ini, negara-negara anggota cenderung berakhir dalam berbagai posisi di sepanjang kontinum integrasi ekonomi-politik. Hal ini mengimplikasikan bahwa Eropa harus mengembangkan fleksibilitas dan pengaturan kelembagaan untuk menampungnya.

Sejak awal, Eropa sudah membangun apa yang disebut sebagai argumen fungsionalis: integrasi politik akan mengikuti integrasi ekonomi. Kertas putih Juncker pas dengan 1.950 kutipan dari pendiri Masyarakat Ekonomi Eropa (dan perdana menteri Perancis) Robert Schuman: "Eropa tidak yang akan jadi satu dengan cepat, atau sesuai dengan rencana tunggal saja. Eropa akan dibangun melalui prestasi kongkrit yang lebih dahulu menciptakan solidaritas de facto." Bangun mekanisme kerjasama ekonomi dahulu, kana kita akan dapat mempersiapkan tanah untuk lembaga-lembaga politik umum.

Pendekatan ini berhasil dengan baik pada awalnya. Pendekatan ini mampu membuat intgrasi ekonomi selangkah lebih maju dari integrasi politik, walaupun tidak terlalu jauh. Lalu setelah tahun 1980an, Uni Eropa melompat ke ranah yang tidak dikenal. Eropa mengadopsi agenda pasar tunggal ambisius yang bertujuan untuk menyatukan negara Eropa, bergerak jauh dari kebijakan nasional yang menghambat pergerakan bebas, bukan hanya pada barang,namun juga terhadap jasa, orang, dan modal. Euro, yang sejatinya membentuk mata uang tunggal yang digunakan oleh negara-negara anggota Uni Eropa, merupakan perkembangan yang logis dari agenda ini. Ini merupakan hyper-globalisasi pada skala Eropa," Dani Rodrik membagi pendapatnya.

"Agenda baru ini didorong oleh pertemuan faktor. Banyak ahli ekonomi dan teknokrat merasa bahwa pemerintah Eropa menjadi terlalu ikut campur dan bahwa integrasi ekonomi dalam pada mata uang tunggal akan mendisiplinkan negara. Dari perspektif ini, ketidakseimbangan antara kaki ekonomi dan politik dari proses integrasi merupakan keistimewaan, bukan gangguan.

Walaupun begitu, banyak politikus yang mengerti bahwa ketidakseimbangan dapat berpotensi menimbulkan masalah. Tapi mereka menganggap fungsionalisme akhirnya akan tiba ibarat penyelamat: lembaga politik semu-federal yang diperlukan untuk mendukung pasar tunggal akan mengembangkan waktu yang diberikan.

Kekuatan terkemuka di Eropa telah memainkan peran mereka. Orang Perancis merasa bahwa pergeseran otoritas ekonomi bagi birokrat di Brussels akan meningkatkan kekuatan nasional Perancis dan pamor global. Sedangkan hasrat orang Jerman untuk mendapatkan kesepakatan Prancis terhadap reunifikasi Jerman masih berlanjut," kata sang profesor Harvard tersebut menjelaskan.

"Ada alternatif lain. Eropa mungkin bisa membiarkan suatu model sosial umum untuk mengembangkan integrasi ekonomi bersama. Ini akan memerlukan pengintegrasian tidak hanya pada pasar tetapi juga pada kebijakan sosial, lembaga pasar tenaga kerja, dan pengaturan fiskal. Keragaman model sosial di seluruh Eropa dan sulitnya mencapai kesepakatan pada aturan umum, akan terlihat bagai rem alami yang menghambat kecepatan dan ruang lingkup integrasi. Jauh dari kerugian, malahan alternatif ini akan memberikan manfaat korektif mengenai kecepatan yang paling diinginkan dan tingkat integrasi. Hasilnya mungkin sebuah Uni Eropa yang lebih kecil, lebih dalam terintegrasi, atau Uni Eropa dengan anggota-anggota seperti sekarang, tapi tidak terlalu ambisius dalam lingkup ekonomi. Saat ini mungkin sudah terlambat apabila ingin mencoba integrasi fiskal dan politik Uni Eropa. Kurang dari satu dari lima orang Eropa lebih menyukai pergeseran kekuasaan dari anggota negara-bangsa lainnya," sang pakar melanjutkan.

"Kelompok optimis mungkin mengatakan bahwa keadaan ini disebabkan oleh kurangnya keengganan terhadap Brussels atau Strasbourg per se dari asosiasi publik yang "lebih Eropa" dengan fokus teknokratis di pasar tunggal dan tidak adanya model alternatif menarik. Mungkin kemunculan pemimpin baru dan formasi politik akan berhasil mennunjukkan sketsa model seperti itu dan menciptakan semangat tentang proyek reformasi Eropa.

Sedangkan bagi kaum pesimis, mereka akah berharap bahwa di dalam koridor kekuasaan di Berlin dan Paris, jauh di dalam pojok gelap, para pengacara dan ahli ekonomi diam-diam bekerja sama menyiapkan plan B untuk menyiapkan hari ketika pelonggran serikat ekonomi tidak bisa lagi ditunda," Profesor Ekonomi Politik Internasional di Universitas Harvard tersebut menyimpulkan.


Di Publish: 2017-03-20
Kembali ke daftar

Lihat juga:

Mulai trading tanpa
risiko dan investasi
Dengan Bonus Permulaan $1000
Get bonus
55%
from InstaForex
on every deposit