InstaForex InstaForex

Experts Say: 2017-02-07

Shahidul Haque - Mantan Ketua Global Forum on Migration and Development

Negara berkembang perlu bantu para imigran dan pengungsi

Menurut mantan Ketua Global Forum on Migration and Development (GFMD) Shahidul Haque, larangan tanpa batas waktu untuk para pengungsi asal Syria yang diberlakukan oleh Amerika Serikat telah menjadi tantangan besar bagi kita saat ini.

Shahidul Haque yang saat ini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Bangladesh membagi pendapatnya mengenai masalah pengungsi dan imigran.

"Skala jumlah pengungsi saat ini termasuk mengejutkan, di seluruh dunia ada total 56 juta orang yang dipaksa meninggalkan rumah sekaligus negara mereka; pada tahun 2016 saja ada sekitar 7500 imigran – laki-laki, perempuan, dan anak-anak – yang meninggal saat sedang mencari suaka, 5083 diantaranya tenggelam di Laut Mediterania.

Di Laut Andaman, ribuan imigran terdampar di atas kapal tanpa pelabuhan debarkasi, sementara para pedagang manusia menahan mereka untuk meminta uang tebusan; kelemahan serupa diamati dan juga terjadi di Sahel, Tanduk Afrika, dan jalur Amerika Tengah, " kata Haque.

"Sementara itu, saat ini sentimen terhadap anti imigran di negara tempat imigran bernaung malah mencapai titik panas. Alih-alih membangun kepercayaan satu sama lain, para politisi malah menaburkan rasa takut dan menyerukan diskriminasi etnis atau agama terhadap mereka yang sejatinya terpaksa mengungsi dari negara asal mereka. Dan bukannya mempromosikan migrasi yang aman dan tertib, banyak negara yang mengusulkan kebijakan untuk mengurangi atau menghentikan migrasi secara keseluruhan.

Dalam iklim politik ini, sejumlah politikus telah mencoba meremehkan kewajiban hukum dan kemanusiaan mereka terhadap pengungsi dan imigran dengan menyamaratakan mereka bersama-sama, menyiratkan bahwa tidak satupun dari mereka layak mendapatkan perlindungan. Lainnya sementara itu telah enggan mengakui tugas negara mereka untuk menerima pengungsi, namun kemudian malah menyatakan bahwa semua imigran ekonomi harus meninggalkan negara.

Tapi kedua kelompok ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Di bawah Konvensi Pengungsi 1951, dunia internasional memiliki kewajiban hukum untuk menegakkan hak-hak pengungsi. Dan di bawah Konvensi 1990 tentang Hak imigran, negara-negara lain secara moral dan politik berkewajiban untuk mengatasi kebutuhan para imigran. Sebagai partisipasi untuk memenuhi sasaran dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan oleh PBB untuk tahun 2030, pemimpin dunia perlu mengidentifikasi pengungsi, pengungsi internal, dan migran sebagai populasi rentan yang layak mendapatkan perlindungan. Secara khusus mereka berjanji untuk bekerja sama dalam rangka "memastikan migrasi yang aman, tertib, dan teratur melibatkan penghormatan penuh terhadap hak asasi manusia dan perlakuan yang manusiawi terhadap para migran tanpa memandang status migrasi, pengungsi, dan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal," ahli tersebut melanjutkan.

"Tidak ada orang yang pantas untuk menghentikan mobilitas manusia. Para imigran, bagaimanapun juga membawa manfaat besar untuk negara tuan rumah mereka serta negara-negara asal mereka. Namun tidak ada yang bisa menyangkal tantangan yang ditimbulkan oleh arus migran dan pengungsi yang tidak teratur- yang sering melakukan perjalanan bersama-sama dalam bentuk "migrasi campuran".

Orang-orang yang memulai perjalanan dengan cara tak beraturan sangat rentan, terlepas dari apakah mereka adalah pengungsi atau imigran. Dan dengan mengandalkan jalur tidak resmi untuk menghindari kewajiban hukum saat melintasi perbatasan, mereka juga secara tidak sengaja melemahkan supremasi hukum. Banyak orang dipaksa untuk mengumpulkan jasa penyelundup,karena mereka berkontribusi terhadap kejahatan terorganisir. Pada akhirnya, tantangan yang imigran dan pengungsi hadapi, dan bantuan yang mereka butuhkan dari pemerintah dan masyarakat internasional sangat mirip, meskipun tentu saja, hukum internasional menjamin perlindungan tambahan pengungsi, termasuk prinsip non-refoulement.

Pada September lalu, pemimpin dunia yang menghadiri KTT PBB tentang Pengungsi dan Migran melihat persamaan ini untuk pertama kalinya. Pada akhir pertemuan, para delegasi menerapkan Deklarasi New York yang mencakup komitmen untuk mengatasi kebutuhan dan tantangan umum imigran dan pengungsi, dan menguraikan proses untuk mengembangkan compacts global untuk berbagi tanggung jawab dalam membantu pengungsi, dan untuk memastikan migrasi yang aman, tertib, dan teratur.

Krisis pengungsi dan imigran yang sedang berlangsung ini membtuuhkan kerangka kerja global-pemerintahan baru yang komprehensif dan koheren. Inilah saatnya untuk mengatasi mobilitas secara keseluruhan dan dalam segala bentuk, terlepas dari alasan pengungsi dan imigran yang bergerak bahkan untuk alasan yang ada di luar kendali mereka, seperti bencana alam, atau mereka yang mengejar peluang untuk memperbaiki kehidupan.

Arus imigran dan pengungsi saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari realitas geopolitik baru yang kompleks, dan mereka tidak bisa lagi ditangani secara efektif sebagai masalah terpisah. Masyarakat internasional telah sepakat untuk mengembangkan compacts terpisah untuk masing-masing masalah, tetapi juga harus memastikan bahwa proses untuk melakukannya sangat terkoordinasi. Hanya dengan secara jelas mengakui hubungan antara arus imigran dan pengungsi kita dapat memastikan bahwa semua negara anggota PBB setuju untuk mematuhi kedua compacts, dan berpartisipasi dalam respon sistematis yang koheren untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang rentan ini," Shahidul Haque menjelaskan.

"Di masa depan, kita harus terbuka, inklusif, dan berani dalam melakukan pendekatan kami, dan kita perlu melihat melampaui urusan bisnis seperti mandat biasa atau institusional. Kita memiliki kesempatan unik untuk mengembangkan kerangka kerja yang komprehensif untuk mengatasi mobilitas manusia dalam semua dimensi, tidak peduli apakah para pengungsi dan imigran yang ada terpaksa pindah, dan mereka yang mungkin menggunakan cara-cara tak beraturan atau melalui penyelundupan, atau mereka yang pindah melalui jalur resmi untuk mencari kehidupan yang lebih baik,” Shahidul Haque menjelaskan.

Dengan bekerja sama untuk menuju solusi yang koheren kita dapat meningkatkan tata kelola global mobilitas manusia secara signifikan. Inilah satu-satunya pilihan realistis kita untuk dapat membantu orang-orang yang sedang berupaya berpindah tempat tinggal ini. Selain itu kita juga ingin merekatkan komunitas di tempat tinggal yang akan mereka sebut rumah mereka nantinya,” Haque menyimpulkan.

Di Publish: 2017-02-07
Kembali ke daftar

Lihat juga:

Mulai trading tanpa
risiko dan investasi
Dengan Bonus Permulaan $2500